Jumat, 26 Januari 2018

Sosiologi : Konflik Sosial

A.  Pengertian Konflik Sosial

      1.   Menurut Bahasa
Kata konflik berasal dari bahasa Latin “confegere” yang berarti saling memukul. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), konflik berarti pertentangan, percekcokan, atau perselisihan.

      2.   Menurut Istilah
Dalam sudut ilmu sosiologi, konflik sosial dapat diartikan sebagai berbagai masalah sosial yang menimbulkan pertentangan dalam kehidupan masyarakat atau bernegara, yang disebabkan oleh adanya perbedaan pendapat atau pandangan tertentu, akibat tidak adanya rasa toleransi dan perasaan saling mengerti akan kebutuhan individu masing-masing.

      3.   Menurut Para Ahli
      a.   Soerjono Seokanto
Konflik sosial adalah suatu bentuk proses soial dimana individu atau kelompok berusaha untuk mencapai tujuannya dengan cara menantang individu atau kelompok lain yang disertai dengan ancaman atau kekerasan.

      b.   Robins
Konflik sosial merupakan suatu proses dimana suatu pihak merasa dirugikan dan pihak tersebut telah memberikan efek negative kepada pihak yang lain.

      c.   Alabaness
Konflik sosial adalah suatu keadaan dimana diantara kelompok yang bermasalah tidak mencapai suatu kata sepakat, hingga akhirnya masalah tersebut dapat mempengaruhi kehidupan kedua belah pihak.

      d.   Gillin
Konflik sosial merupakan bagian dari proses sosial yang terjadi karena adanya perbedaan-perbedaan fisik, emosi, budaya, dan juga perilaku.

      e.   Robert M.Z Lawang
Konflik sosial adalah sebuah perjuangan untuk memperoleh hal-hal yang langka, seperti nilai, status, kekuasaan, dan lain-lain.

      f.    Minnery
Konflik sosial adalah interaksi yang terjadi antara individu atau kelompok yang satu dengan individu atau kelompok yang lain yang saling berhubungan, saling ketergantungan, namun terpisahkan oleh perbedaan tujuan.

      g.   Lewis A.Coser
Konflik sosial adalah sebuah perjuangan mengenai nilai-nilai atau tuntutan atas status, kekuasaan, yang bermaksud untuk menetralkan, menciderai, atau menjatuhkan pihak lawan.

B.  Faktor-faktor yang Menyebabkan Konflik Sosial

      1.   Memiliki Perbedaan Pandangan
Perbedaan pandangan dan pendapat seringkali menjerumuskan kedua kelompok atau lebih terlibat dalam konflik sosial. Perbedaan-perbedaan pandangan tersebut terjadi karena adanya perbedaan cara berpikir serta tujuan akhir yang ada pada masing-masing kelompok. Perbedaan ini sebenarnya dapat dihindari apabila di dalam kelompok tersebut memiliki suatu perasaan saling menghormati dan rasa toleransi yang tinggi.

      2.   Saling Bergantung
Antara kelompok satu dengan yang lainnya pasti saling memiliki ketergantungan untuk mencapai suatu tujuan. Hingga sikap saling ketergantungan tersebutlah dapat menimbulkan konflik jika tidak adanya persatuan tujuan antara kedua kelompok.

      3.   Masalah Komunikasi
Komunikasi merupakan modal utama dalam melakukan proses sosialisasi. Jika komunikasi tidak berjalan dengan baik, maka kemungkinan untuk timbulnya konflik semakin besar, dikarenakan maksud dan tujuan yang disampaikan tidak sepenuhnya didengar akibat komunikasi yang kurang baik.

      4.   Adanya Struktur Organisasi
Dalam sebuah organisasi atau kelompok, pastilah memiliki struktural dalam menjalankan tugas dan fungsi masing-masing untuk mempermudah dalam mencapai tujuan bersama. Namun, seringkali antara struktur yang satu dengan yang lain tidak mencapai kata sepakat dalam menyelesaikan suatu permasalahan, sehingga timbullah konflik.

      5.   Perbedaan Sifat Manusia
Kita semua mengetahui, bahwasanya terdapat berbagai macam kepribadian manusia di lingkungan kita. Antara orang yang satu dengan yang lain tentunya memiliki kepribadian yang berbeda. Ada yang memiliki rasa memahami yang besar, ada orang yang egois, ada orang yang dictator, dan lain sebagainya.



      6.   Menurut Loepold von Wiese dan Howard Becker :
-          Perbedaan Individual,
-          Perbedaan Kebudayaan,
-          Perbedaan Kepentingan,
-          Perbedaan Sosial.

      7.   Menurut teori konflik social :
-          Adanya pandangan atau persepsi bahwasanya konflik merupakan satu-satunya cara untuk menyelesaikan permasalahan,
-          Sedikitnya saluran-saluran untuk menampung keluhan masyarakat kelas bawah, dan lambatnya mobilitas sosial ke atas,
-          Tidak meratanya pendistribusian sumber daya di dalam masyarakat,
-          Ditariknya kembali legitimasi penguasa politik oleh rakyat kelas bawah,
-          Melemahnya kekuasaan negara dengan mobilisasi masyarakat bawah dan/atau elit.

      8.   Sebab konflik selalu muncul dalam kehidupan manusia
Karena dalam kehidupan manusia terdapat keaneka ragaman yang tinggi, manusia diciptakan dalam keadaan yang berbeda – beda sehingga dapat menimbulkan perbedaan pendapat dan sikap.

C.  Macam – macam Konflik Sosial

      1.   Konflik Sosial
Konflik sosial merupakan suatu garis besar dari berbagai macam konflik yang terjadi di dalam masyarakat. Baik antar kelompok, antar individu, dan lain sebagainya, jika telah adanya konflik yang terjadi antara lebih dari satu orang, maka dapat dikatakan konflik sosial.

      2.   Konflik Antar Kelompok
Konflik ini terjadi antara kelompok yang satu dengan yang lainnya, bisa jadi antar dua kelompok, atau lebih. Konflik antar kelompok umumnya disebabkan karena perbedaan tujuan dan persaingan yang tidak sehat dalam mencapai tujuan kelompok masing-masing.

      3.   Konflik Antar Negara (Internasional)
Konflik ini terjadi antar dua negara atau lebih. Biasanya, konflik ini dipicu oleh adanya satu pihak yang keberatan dengan kebijakan-kebijakan negara yang lainnya, sehingga timbullah konflik.

      4.   Konflik Antar Partai Politik atau Organisasi (Politik)
Konflik ini juga sama seperti konflik yang terjadi antar kelompok, dimana terjadi perselisihan antara partai atau organisasi satu dengan partai atau organisasi yang lainnya.

      5.  Konflik Antar Individu Dengan Kelompok
Konflik ini ditimbulkan oleh karena adanya kelompok-kelompok tertentu yang tidak sependapat dengan individu atau perseorangan, sehingga timbullah konflik.

      6.   Konflik Rasial
Merupakan konflik yang terjadi antara suku atau ras yang satu dengan yang lain, yang disebabkan karena adanya perbedaan fisik.

D.  Bentuk - Bentuk Konflik Sosial

      1.   Berdasarkan Posisi Pelaku
      a.   Konflik Horizontal
Merupakan konflik yang terjadi antara ndividu atau kelompok yang mempunyai kedudukan yang relatif sama.

      b.   Konflik Vertikal
Yaitu konflik yang terjadi antar komponen masyarakat yang memiliki structural.

      c.   Konflik Diagonal
Merupakan konflik akibat tidak meratanya pendistibusian sumber daya ke setiap organisasi sehingga munculah konflik yang ekstrem.

      2.   Berdasarkan Sifatnya
      a.   Konflik Destruktif
Yaitu konflik yang terjadi karena adanya perasaan dendam atau benci kepada kelompok lainnya.

      c.   Konflik Konstruktif
Yaitu konflik yang terjadi karena adanya perbedaan pandangan antar kelompok.

      3.   Berdasarkan Sifat Pelakunya
      a.   Konflik Terbuka
Ialah konflik yang diketahui oleh semua pihak, seperti konflik antara Israel dan Palestina.

      b.   Konflik Tertutup
Yaitu konflik yang hanya diketahui oleh orang tertentu saja, seperti konflik dalam keluarga.

      4.   Bentuk konflik sosial menurut Ralf Dahrendorf
a.   Konflik peran yaitu, konflik yang terjadi dalam peranan sosial.
b.   Konflik antara kelompok sosial.
c.   Konflik antara kelompok yang terorganisir dan kelompok yang tidak terorganisir.
d.   Konflik antara satuan nasional, contohnya antarnegara, antarpartai politik, atau organisasi internasional.

      5.   Bentuk konflik sosial menurut Lewis A. Coser
     
      a.   Konflik berdasarkan bentuk, terdiri dari :
     
      1.   Konflik realistis
Merupakan konflik yang muncul dari rasa kecewa individu atau kelompok atas perkiraan-perkiraan keuntungan maupun tuntutan-tuntutan yang terjadi dalam suatu hubungan sosial. Contohnya adalah beberapa karyawan melakukan kegiatan aksi mogok kerja disebabkan karena tidak setuju dengan perusahaan.

      2.   Konflik nonrealistis
Merupakan konflik yang tidak berasal dari tujuan-tujuan saingan yang bertentangan, tetapi dari kebutuhan untuk meredakan ketegangan, paling tidak dari salah satu pihak. Contohnya adalah penggunaan dukun atau jasa ilmu gaib untuk balas dendam atas perlakuan orang lain kepada kita.

      b.   Konflik berdasarkan tempat terjadinya, terdiri dari :
     
      1.   Konflik in-group
Merupakan konflik yang muncul di dalam kelompok atau masyarakat itu sendiri. Contohnya pertentangan karena masalah dalam kelompok itu sendiri sampai mengakibatkan permusuhan dan pertentangan antaranggota dalam kelompokt  itu.

      2.   Konflik out-group
Merupakan konflik yang terjadi antara suatu kelompok atau masyarakat dengan kelompok atau masyarakat lain. Contohnya konflik yang terjadi antara kelompok A dengan kelompok B.

E.  Dampak Konflik Sosial

      1.   Dampak Negatif
a.   Meningkatnya solidaritas sesama anggota kelompok yang berkonflik dengan kelompok yang lain, karena memiliki pemahaman yang sama untuk menjatuhkan pihak lawan,
b    Keretakan hubungan antar kelompok atau individu yang bertikai atau berkonflik,
c.   Kerusakan harta benda dan hilangnya nyawa manusia,
d.   Perbuahan kepribadian pada individu, misalnya timbul dendam, benci, dan saling curiga.
e.   Tanggunya ketertiban dalam masyarakat.

      2.   Dampak Positif
a.   Tuntasnya Permasalahan, maksudnya, jika misalnya terjadi perbedaan pendapat dalam suatu diskusi atau forum, maka pastinya hal tersebut akan lebih lengkap untuk dijelaskan, sehingga akan tuntas,
b.   Dapat berfungsi sebagai sarana-sarana untuk mencapai keseimbangan kekuatan-kekuatan di dalam masyarakat,
c.   Dapat menghidupkan kembali norma lamadan menciptakan norma baru,
d.   Memungkinkan adanya penyesuaian kembali terhadap norma-norma lama yang dianggap tidak bisa mewakili kehidupan sekarang.

      3.   Dampak Tidak Langsung
Dampak tidak langsung dari konflik sosial adalah rusaknya fasilitas umum dan sarana ekonomi lainya yang menyebabkan naiknya harga barang kebutuhan hidup.

F.   Tertib Sosial

Tertib sosial merupakan suatu keadaan dimana masyarakatnya sudah tidak lagi melakukan konflik sosial. Suatu kelompok masyarakat dapat digolongkan ke dalam tertib sosial apabila mencakup hal-hal berikut, yaitu :
a.   Terdapat suatu sistem nilai dan norma yang jelas,
b.   Individu ataupun kelompok yang berkonflik sebelumnya telah memahami dan mengetahui norma-norma sosial yang berlaku,
c.   Individu ataupun kelompok tersebut harus dapat menyesuaikan diri serta tindakannya terhadap norma-norma sosial yang berlaku.

G.  Cara Mengatasi Konflik Sosial

      1.   Coertion ( Koersi )
Cara ini dilakukan oleh pihak-pihak yang kuat secara fisik ataupun kekuatan dan dayanya untuk menekan dan memaksa pihak-pihak yang berkonflik untuk menyudahi perselisihan mereka. Paksaan ini dapat dilakukan secara psikologis maupun secara fisik. Pihak yang memaksa pada dasarnya juga mengajukan syarat-syarat perdamaian yang harus disetujui oleh kedua belah pihak.

      2.   Arbitration( Arbitrasi )
Arbitrasi merupakan proses mengatasi konflik dengan menggunakan jasa pihak ketiga sebagai penengah dan pengambil keputusan. Arbitrasi sendiri berarti keputusan wasit. Pihak ketiga ini dipilih secara bebas oleh kedua belah pihak yang bersengketa, dan ia berhak menentukan cara-cara penyelesaian konflik tanpa harus terikat dengan hukum dan peraturan.
     
      3.   Mediation ( Mediasi )
Mediasi merupakan proses mediasi ini juga menggunakan pihak ketiga dalam upaya menyelesaikan konflik, akan tetapi bedanya dengan arbitrasi ialah, pada proses mediasi, pihak ketiga yang digunakan ialah pihak yang memiliki hubungan baik dengan kedua belah pihak yang bersengketa. Sang mediator mengusulkan syarat-syarat perdamaian kepada kedua belah pihak, dan seterusnya keputusan akhir tetap diputuskan oleh pihak yang berkonflik.

      4.   Negosiation ( Negosiasi )
Negosiasi merupakan proses penyelesaian masalah dengan menggunakan iktikad baik dari kedua belah pihak dengan cara mengadakan musyawarah secara bersama-sama dan menyampaikan pokok permasalahan dan upaya penyelesaian

      5.   Tolerantion ( Toliransi )
Toleransi merupakan proses enyalesaian konflik dengan cara kedua belah pihak bersedia menghormati pendirian pihak lain.

      6.   Stalemate
Perbedaan konflik yang berjalan dengan sendirinya, karena masing – masing pihak yang bertentangan memiliki kekuatan yang seimbang.

      7.   Reconsilliation ( Rekonsiliasi )
Rekonsiliasi merupakan proses penyelesaian konflik yang dilakukan dengan menjajaki tuntutan kedua belah pihak, untuk kemudian dipertemukan dengan usahan mengurangi masing – masing tuntutan.

      8.   Rasion ( Rasionalisasi )
Rasionalisasi merupakan proses penyelesaian konflik dengan cara memberikan alasan yang kedengarannya rasional untuk membenarkan tindakan – tindakan yang sebenarnya akan menimbulkan konflik.

      9.   Adjudication ( Ajudikasi )
Ajudikasi merupakan proses penyelesaian konflik melalui jalur hukum, hal ini dilakukan apabila konflik sosial yang terjadi tidak dapat diselesaikan secara musyawarah dengan menggunakan pihak menengah.

      10.  Compromise ( Kompromi )
Kompromi merupakan suatu bentuk akomodasi yang masing – masing pihak terlibat mengurangi tuntutannya, agar tercapai suatu penyelesaian terhadap pertentangan yang ada.

      11.  Convertion ( Konversi )
Konversi merupakan proses penyalesaian konflik dengan jalan mempertemukan pihak – pihak yantg bertentangan dalam perundingan agar memperolah kesepakatan bersama.

      12.  Cegregation ( Segregasi )
Segregasi merupakan upaya yang saling memisahkan diri dan saling menghindarkan antara pihak – pihak yang bertentangan dalam rangka mengurangi ketegangan.

      13.  Coalisation ( Koalisasi )
Koalisasi merupakan suatu persekutuan, gabungan/aliansi beberapa unsur dimana dalam kerjasamanya masing – masing memiliki kepentingan sendiri.

      14.  Genjatan Senjata
Genjatan senjata merupakan proses penyelesaian konflik dengan jalan permusuhan atau peperangan dalam jangka waktu tertentu.

      15.  Dispasement
Dispasement merupakan usaha mengakhiri konflik dengan mengalihkan pada objek masing – masing.

H.  Perbedaan Konflik Sosial Dengan Kekerasan
     
      1.   Konflik Sosial
-          Proses terjadinya konflik diketahui oleh kedua belah pihak yang bertikai.
-          Cara penyelesaiannya dapat diselesaikan dengan cara akomodasi dan peradilan.
-          Bukan merupakan hukum semata – mata.
-          Terjadi dalam waktu yang relative panjang.

2.     Kekerasan
-          Proses terjadinya terkadang tidak diketahui oleh pihak yang lemah.
-          Cara penyelesaiannya harus dilakukan melalui peradilan.
-          Merupakan bentuk pelanggaran hukum.
-          Terjadi dalam waktu yang relative singkat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar